Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berita untuk Anda

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Adi Fun Learning - Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning atau CTL tergolong tidak mudah untuk dilakukan atau diaplikasikan.

Hal ini karena dibutuhkan sumber daya manusia yang berwawasan tinggi, luas dan mendalam dengan keterampilan untuk menghubungkan materi pelajaran dengan konteks yang ada. Itulah intisari Contextual Teaching and Learning.

Dalam kesempatan kali ini, Adi Fun Learning akan berbagi pengertian, karakteristik, tujuan dan langkah-langkah untuk melaksanakan model pembelajaran CTL dalam KBM di kelas bersama dengan para peserta didik. 

Selain pemaparan pembahasan mengenai CTL, kami akan memberikan sedikit kritik pedas tentang penerapan model pembelajaran ini. Mengapa demikian? Karena salah memilih model pembelajaran berakibat tidak tercapainya sasaran dan target belajar. 

Untuk itu semua pengajar yang ingin memakai atau melabeli diri memakai model CTL harus benar-benar paham intisari, prosedur dan tujuannya. 

Pengertian Contextual Teaching and Learning

Definisi pembelajaran kontekstuan CTL

Ada beberapa pendapat menarik dari para ahli mengenai definisi CTL. Beberapa diantaranya telah berhasil kami rangkum.

CTL Menurut Pate (2003)

Menurut Pate, contextual teaching memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk memahami dan menguasai berbagai keterampilan sekaligus dalam hubungannya dengan permasalahan mereka di dunia nyata. Ini berarti proses pembelajaran dan instruksi-instruksi yang diberikan guru di sekolah juga harus terhubung dengan apa yang sedang terjadi di dunia nyata. 

CTL Menurut Hudson and Whistler (2007)

Contextual Teaching and Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang tidak bisa dilepaskan dari konsep behaviorstik dan konstruktivisme. Ini adalah sebuah konsep yang membantu para pendidik untuk menghubungkan isi dari pelajaran dengan kenyataan dan dapat diaplikasikan untuk kehidupan di dalam lingkup keluarga, masyarakat, dan dunia kerja. 

CTL Menurut Brown (1998)

CTL adalah sebuah konsep yang berakar kuat pada konstruktivisme. Lebih lanjut, konstruktivisme adalah suatu konsep yang terkait erat dengan interaksi dan interpretasi dengan lingkungan. 

CTL Menurut Sanjaya (2006)

CTL adalah suatu strategi yang memberi peluang bagi keterlibatan siswa dalam menguasai materi dan menghubungkannya dengan dunia nyata.

CTL Menurut Trianto (2007)

CTL atau pembelajaran konstekstual adalah suatu pembelajaran yang tercipta dimana memiliki keterkaitan erat dengan apa yang sedang terjadi sesungguhnya.

CTL Menurut Muslich (2007)

Muslich mengatakan bahwa dasar dari contextual learning adalah konsep konstruktivisme sehingga tidak melulu hanya menghapal, namun juga memahami.

CTL Menurut CORD

Sebagai tambahan, kami sertakan potongan artikel dari CORD yang bisa diakses di alamat url yang tertulis di bawah artikel ini. 

According to contextual learning theory, learning occurs only when students process new information or knowledge in such a way that it makes sense to them in their own frames of reference (their own inner worlds of memory, experience, and response). The mind naturally seeks meaning in context by searching for relationships that make sense and appear useful.

Building upon this understanding, contextual learning theory focuses on the multiple aspects of any learning environment, whether a classroom, a laboratory, a computer lab, or a worksite. It encourages educators to choose and/or design learning environments that incorporate many different forms of experience in working toward the desired learning outcomes. In such an environment, students discover meaningful relationships between abstract ideas and practical applications in the context of the real world; concepts are internalised through the process of discovering, reinforcing, and relating.

Manfaat dan Tujuan CTL

Manfaat dan Tujuan CTL

Ada beberapa tujuan dan manfaat dari pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning ini, diantaranya adalah sebagai berikut : 

  • Memudahkan penyampaian materi kepada siswa.
  • Memudahkan siswa memahami subyek pelajaran.
  • Membuat proses pembelajaran lebih bermakna.
  • Membuat proses pembelajaran menjadi tidak membosankan.
  • Siswa menyadari pentingya apa yang mereka pelajari.
  • Meningkatkan motivasi belajar siswa.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengakses sumber pengetahuan lebih lanjut. 
  • Memberi peluang kepada masyarakat, orang tua dan industri untuk ambil peranan lebih dalam memajukan pendidikan.
  • Memaksimalkan potensi siswa.
  • Meningkatkan skill dan kemampuan siswa.
  • Memberi pemahaman siswa akan pentingnya mempersiapkan diri sedari awal untuk menyongsong dunia kerja ke depannya.
  • Memberikan gambaran mengenai bagaimana dunia kerja bagi siswa.

Kelebihan dan Kekurangan Model CTL

Kelebihan dan Kekurangan CTL

Ada banyak sekali kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran CTL ini. Namun semua berpulang kepada kondisi dan situasi dari masing-masing anak, pendidik maupun institusi yang menjalankannya. 

Kelebihan CTL

Berikut ini adalah keunggulan dari pembelajaran kontekstual. Kami membaginya dari sudut pandang siswa dan guru. 

Kelebihan CTL (Sudut Pandang Siswa)

  • Siswa akan lebih mudah memahami materi karena hal itu sudah dimodifikasi sehingga terasa dekat dengan mereka.
  • Siswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan skill, kemampuan dan keterampilan.
  • Siswa akan mencoba mencari pengetahuan dan referensi lebih lanjut karena menyadari betapa penting materi itu untuk mereka.

Kelebihan CTL (Sudut Pandang Guru)

  • Guru akan tertantang untuk meningkatkan kemampuan dalam memodifikasi materi yang sesuai dengan kenyataan.
  • Guru secara tidak langsung akan menjadi jauh lebih berwawasan dan terampil dalam menyampaikan materi sesuai dengan apa yang dialami dan dibutuhkan siswa.
  • Siswa akan menjadi lebih cerdas dari sebelumnya. Menjadi lebih rajin belajar. Ini adalah berkat tak terkira untuk guru yang berhasil mencapai target mulia yang sudah dicanangkan.

Kelemahan CTL

Seperti model atau pendekatan lainnya, contextual teaching tentu juga memiliki kelemahan. Ini harus diperhatikan karena jika tidak akan berpotensi mengacaukan proses belajar mengajar yang sudah ada. 

Kelemahan CTL (Sudut Pandang Siswa)

  • Dengan skenario guru gagal memodifikasi materi, maka siswa terancam : 
  1. Tidak memahami sama sekali pelajaran yang diberikan.  
  2. Gagal memaksimalkan potensi yang ada. 
  3. Proses belajar mengajar menjadi kacau dan tidak tertib. 

  • Siswa yang belum memiliki pondasi (scaffolding?) yang kuat akan kesulitan untuk memahami apa yang sedang dipelajari.
  • Terancam terjadi kekacauan jika ternyata siswa belum memahami cara bekerja dalam kelompok. 

Kelemahan CTL (Sudut Pandang Guru)

  • Menghabiskan waktu, tenaga dan dana untuk memodifikasi materi agar sesuai latar belakang, kondisi dan kehidupan nyata.
  • Terkadang kendala bukan hanya di guru, tetapi materi itu sendiri yang memang sangat sulit untuk dimodifikasi agar disampaikan sesuai konteks yang ada. 

Langkah-langkah Pelaksanaan CTL

Langkah melakukan CTL

Sudah ada banyak referensi mengenai pelaksanaan dan langkah-langkah dalam mengaplikasikan model CTL di kelas. Adi Fun Learning akan memberikan formula alternatif yang lain. 

Tahap Perencanaan 

  1. Guru memetakan materi yang akan diajarkan.
  2. Guru menghubungkan materi dengan kehidupan nyata.
  3. Guru mempersiapkan berbagai skenario penyampaian.
  4. Guru menyiapkan teknik pembelajaran, media pengajaran dan sarana lainnya yang dibutuhkan.

Tahap Pelaksanaan KBM

Berikut adalah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berdasarkan CTL. Ada beberapa versi yang mungkin bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi yang ada. 

Alternatif 1 : Mengajarkan Matematika

  1. Memberi konsep dasar.
  2. Berlatih bersama.
  3. Guru menjelaskan apa yang sedang mereka pelajari dan mengapa hal itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Meminta siswa mempraktikan konsep itu dalam latihan.
  5. Memberikan soal cerita sesuai dengan kehidupan sehari-hari. 
  6. Meminta siswa memecahkan soal itu lalu menjelaskannya kepada orang lain.
  7. Meminta siswa membuat soal yang mirip yang mungkin mereka alami di kehidupan nyata.

Alternatif 2 : Mengajarkan Bahasa Inggris

  1. Memberi konsep dasar.
  2. Melihat video percakapan sehari-hari di kehidupan nyata.
  3. Guru menjelaskan apa yang sedang mereka pelajari dan mengapa hal itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Meminta siswa mempraktikan.
  5. Meminta siswa menuliskan dialog lain yang mirip.
  6. Meminta siswa menyampaikannya di depan kelas.
  7. Memberi tugas untuk melihat Youtube, video, atau film dan membuat dialog berdasarkan percakapan yang mereka dengar.

Alternatif 3 : Mengajarkan Sains

  1. Memberi konsep dasar.
  2. Melihat video dari kehidupan nyata yang sesuai dengan materi.
  3. Guru menjelaskan apa yang sedang mereka pelajari dan mengapa hal itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Praktik.
  5. Guru meminta siswa mencatat dan mempresentasikan hasil praktinya. 

Catatan Penting : Kelihatannya semua terlihat mudah, padahal tidak seperti itu. Poin ketiga, yakni Guru menjelaskan apa yang sedang mereka pelajari dan mengapa hal itu sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, merupakan hal yang paling krusial dan sulit. Anda sebagai guru diminta untuk menguasai beberapa atau semua dari skill berikut : 

  • Narasi dan storytelling.
  • Presentasi dengan menguasai IT atau media pembelajaran yang ada.
  • Menjadi motivator yang menyadarkan siswa pentingnya apa yang sedang mereka pelajari.

Sumber dan Saran Bacaan Lebih Lanjut 

Posting Komentar untuk "Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)"