56 Macam Model Pembelajaran Menyenangkan Terbaru

Pengertian Model Pembelajaran


Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran? Seperti apa jenis-jenisnya? Bagaimana pula cara mengaplikasikan berbagai model pembelajaran di kelas? Dalam kesempatan kali, Adi Fun Learning akan membahasnya tuntas untuk Anda.

Menurut Istarani (2012 : 58), model pembelajaran merupakan seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.Istilah model pembelajaran sering tertukar dengan metode pembelajaran. Meski begitu, seperti yang diutarakan oleh Shoimin (2014:68) setidaknya ada 4 ciri khas yang hanya dimiliki oleh model pembelajaran :

1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.

2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai

3. Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara maksimal.

4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Macam Macam Model Pembelajaran

macam-macam model pembelajaran - adi fun learning
model pembelajaran

Ada berbagai macam model pembelajaran, baik yang bersifat kekinian maupun klasikal. Dalam artikel kali ini, Adi Fun Learning akan berbagi 80 contoh model pembelajaran terbaru yang bisa Anda aplikasikan.

1. Koperatif (CL, Cooperative Learning)

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pemberian tugas, dan rasa senasib.

Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, dan memahami materi secara mendalam.

Alur pembelajaran koperatif adalah : informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan membuat laporan. Baca juga : Perbedaan Teknik, Metode dan Model Pembelajaran.

2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan.
Prinsip pembelajaran kontekstual adalah : siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada 7 indikator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu :

Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh).

Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi).

Learning community (seluruh siswa berpartisipasi dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan).

Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan.

Constructive (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis).

Reflection (review, rangkuman, tindak lanjut).

Authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara).

3. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Alurnya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

4. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma).Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, sintesis, generalisasi, dan inkuiri.

5. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Sigmund Freud di Belanda dengan pola guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematics, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengemabngan mateastika).

Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal dalam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-internment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

6. Team-Work

Sebuah model pembelajaran terpadu yang memfokuskan diri pada pengembangan karakter kerja-sama, saling percaya, dan kolaborasi antar individu. Guru sebagai pembina wajib untuk menekankan pentingnya aspek dan cara bekerja sama yang baik demi mencapai tujuan bersama.

7. Problem Posing

Bentuk lain dari problem solving adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simpel sehingga mudah dipahami. Alurnya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, cari alternatif, menyusun soal-pertanyaan.

8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi.

Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut.

Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola pikir, keterbukaan, dan ragam berpikir. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimbingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).

Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.

9. Probing-Prompting

Mode pembelajaran Probing-Prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengakitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksikan konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan.

Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi.

10. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning) 

Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan, eksplanasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternatif pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. Baca Juga : Ide Model Pembelajaran Untuk Impassing dan Tunjangan Sertifikasi Guru

11. Examples Non Examples

Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru sebagai fasilitator pendidikan peserta didik mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, valuasi dan refleksi.

12. Numbered Heads Together

NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap peserta didik memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap peserta didik tidak sama sesuai dengan nomor peserta didik, tiap peserta didik dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomnor peserta didik yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik, umumkan hasil kuis dan beri reward.

13. Cooperative Script

Metode belajar dimana peserta didik bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari (Danserau cs., 1985).

14. Time Token

Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.

15. Keliling Kelompok

Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya Caranya :

1. Salah satu peserta didik dalam masing-masing kelompok menilai dengan memberikan pandangan dan pemikirannya mengenai tugas yang sedang mereka kerjakan

2. Peserta didik berikutnya juga ikut memberikan kontribusi-nya

3. Demikian seterusnya giliran bicara bisa dilaksanakan arah perputaran jarum jam atau dari kiri ke kanan.

16. TWO STAY TWO STRAY

Ini adalah salah satu model pembelajaran yang cukup terkenal. Cara melakukannya adalah sebagai berikut :

Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain

Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka.

Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.

17. Student Teams Achievement – Divisions (STAD)

STAD adalah salah suatu model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. Baca Juga : Model Pembelajaran PAIKEM

18. Jigsaw (Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, And Snapp, 1978)

Model pembelajaran ini termasuk koperatif dengan sintaks seperti berikut ini : Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak peserta didik dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

19. Quiz

Model pembelajaran dengan memberikan quiz kepada siswa, baik berkelompok maupun individu. Cara ini sangat baik untuk menumbuhkan semangat bersaing dengan sehat.

20. Artikulasi

Artikulasi adalah mode pembelajaran dengan alur: penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu peserta didik menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru sebagai fasilitator pendidikan membimbing peserta didik untuk menyimpulkan.

21. Mind Mapping

Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal murid. Tahapannya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, murid berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil diskusi kelompok, murid membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

22. Make a MatchMencari Pasangan (Lorna Curran, 1994). 

Guru sebagai fasilitator pendidikan menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap murid mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap murid mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya murid yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

Langkah-langkah: 1. Guru sebagai fasilitator pendidikan menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Setiap murid mendapat satu buah kartu. 3. Tiap murid memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.4. Setiap murid mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). 5. Setiap murid yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya 7. Demikian seterusnya. 8. Kesimpulan/penutup. 23. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana murid belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mengatakan bahwa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis. Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.

24. SAVI 

Model pembelajaran SAVI menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki murid. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; Intellectual yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) dan belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.

25. TGT (Teams Games Tournament) 

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan murid heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru sebagai fasilitator pendidikan bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian guyonan. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport.

26. TAI (Team Assisted Individual)

Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (Bidak) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada murid. Oleh karena itu murid harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-murid adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Tahapan Bidak menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) murid belajar kelompok dengan dibantu oleh murid pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

27. Demonstrative Model 

Pembelajaran ini khusus untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk murid atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

28. Explicit Instruction

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Tahapannya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

29. Scramble 

Tahapannya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, murid berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

30. Flipped Classroom 

Guru menyiapkan bahan dan materi pelajaran untuk dipelajari siswa sebelum hari H. Pada saat pertemuan, guru hanya memberikan refleksi dan penguatan.

31. Picture and Picture 

Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, murid (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

32. Cooperative Script

Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, murid mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

33. LAPS-Heuristik 

Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS (Logan Avenue Problem Solving) dengan kata lain apa masalahnya : adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Tahapan: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.

34. Improve

Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Tahapannya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, murid latian dan bertanya, balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi.

35. Treffinger 

Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Tahapan: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.

36. VAK (Visualization, Auditory, Kinetics) 

Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

37. AIR (Auditory, Intellectual, Repetition) 

Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara murid dilatih melalui pemberian tugas atau quis.

38. Kumon 

Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Tahapansnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap murid selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.

39. Quantum 

Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha murid diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat , alami-dengan dunia realitas murid, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.

40. Think Pair and Share (Frank Lyman, 1985)

Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan tahapans: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada murid dan murid bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap murid, umumkan hasil kuis dan berikan reward. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai 2. Murid diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru. 3. Murid diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing. 4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya. 5. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para murid. 6. Guru memberi kesimpulan.

41. Debat

Debat adalah model pembelajaran dengan sintaks: bagi kelas menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, murid membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

42. Role Playing 

Tahapan dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa murid untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok murid, penyampaian kompetensi, menunjuk murid untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok murid membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi. Langkah-langkah: 1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. 2. Menunjuk beberapa murid untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum KBM. 3. Guru membentuk kelompok murid yang anggotanya 5 orang. 4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai. 5. Memanggil para murid yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan. 6. Masing-masing murid berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan. 7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing murid diberikan lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing kelompok. 8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya. 9. Guru memberikan kesimpulan secara umum. 10. Evaluasi.

43. Talking Stick 

Tahapan pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, murid mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada murid dan murid yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad murid lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.

44. Snowball Throwing 

Tahapannya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan, refleksi dan evaluasi. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4. Kemudian masing-masing murid diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5. Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu murid ke murid yang lain selama ± 15 menit. 6. Setelah murid dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7. Evaluasi. 8. Penutup

45. Student Facilitator and Explaining 

Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, murid mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke murid lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi. Murid mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi. 3. Memberikan kesempatan murid untuk menjelaskan kepada murid lainnya misalnya melalui bagan/peta konsep. 4. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari murid. 5. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu

46. Course Review 

 Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, murid atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, murid yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan murid menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

47. MDR (Multi Discourse Representation) / DMR 

DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Tahapannya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup. Baca Juga : Tutorial Menjadi Pelajar SMA Berprestasi

48. INSIDE-OUTSIDE-CIRCLE

 IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana murid saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Tahapannya adalah: Separuh dari jumlah murid membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, murid yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, murid yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya.

49. Tebak Kata

Langkah-langkah : 1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit. 2. Guru menyuruh murid berdiri berpasangan di depan kelas 3. Seorang murid diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang murid yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga. Murid yang membawa kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud dalam kartu 10 x 10 cm. Jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan tsb. 4. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan, murid boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.

50. MEA (Means-Ends Analysis) 

Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan tahapan: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristik, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi

51. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending) 

Tahapannya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

52. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review) 

Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif murid, yaitu dengan menugaskan murid untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan tahapan: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (catat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

53. MID (Meaningful Instructional Design)

Model ini adalah pembnelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Tahapannya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep

54. KUASAI 

Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

55. DLPS (Double Loop Problem Solving) 

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

Tahapannya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama. Baca Juga : Cerpen Pendidikan.

56. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) 

Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif – kelompok. Tahapannya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, murid bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

Langkah-langkah : 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen 2. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran 3. Murid bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada selembar kertas 4. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok 5. Guru membuat kesimpulan bersama

Tentu masih ada banyak jenis dan macam dari model pembelajaran. Walau begitu tidak semua cocok untuk diterapkan di semua kelas, mengingat beragamnya latar belakang guru, sekolah hingga para siswa. Semoga artikel tentang 56 macam model pembelajaran ini bermanfaat untuk kita semua.

0 Response to "56 Macam Model Pembelajaran Menyenangkan Terbaru"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami moderasi. Terima kasih sudah berkunjung.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel