KISSS : Pedoman Dalam Penggunaan Games Di Kelas

Post a Comment
Adi Fun Learning - Salah satu kebiasaan saya dalam melakukan proses pembelajaran adalah menggunakan games. Bagi saya, belajar tidak melulu harus kaku dan membosankan. Justru pembelajaran yang benar adalah menyenangkan namun berkesan.

KISSS : Pedoman Dalam Penggunaan Games Di Kelas / Adi Fun Learning
Games dalam mengajarkan sebuah topik pembelajaran


Untuk itu, maka penting menggunakan inovasi dan alternatif dalam kegiatan belajar mengajar. Maka games pun bisa menjadi solusi.

Sejak saya menjadi guru, bertemu dengan rekan-rekan pendidik lainnya maupun mendengar cerita dari murid-murid dari sekolah lain, saya mengambil kesimpulan bahwa ada beberapa guru yang salah menggunakan metode permainan dalam kegiatan belajar mengajar mereka.

Dalam artikel berikut saya akan berbagi secara singat mengenai pedoman dalam menggunakan games sebagai saranan pembelajaran.

Isu Seputar Penggunaan Games Dalam Pembelajaran.


Ada beberapa statement seputar penggunaan games di dalam kelas. 

1. Games are wasting time.

2. Games are not learning.

3. Games are difficult.

4. Games are (only) about having fun.

5. Games make class crowd.

Hal ini dipengaruhi oleh gaya mengajar, kondisi lingkungan, hingga para dosen yang dulu mendidik para guru-guru ini. Tak ketinggalan pula para kepala sekolah serta pengawas yang suka memberi beban administrasi namun menuntut kegiatan yang menyenangkan siswa. Sungguh manusia jenis itu memang nyata adanya. Jangan dicontoh.



Beberapa Hal Salah Yang Sering Dilakukan Guru.


Ada dua jenis guru. Guru yang tidak suka games dan guru yang suka menggunakan games. Suka atau tidak Anda akan melakukannya. Ini tuntutan jaman. Namun, dua tipe guru tadi tidak menggambarkan kualitas manajemen kelas, khususnya how to handle the students when they play games, yang bagus.

Baik guru yang benci games maupun yang suka games, harus belajar bagaimana manajemen games yang baik. 

Sebelum kita kesana, mari kita telaah beberapa hal yang salah yang dilakukan guru keitka meng-handle permainan di dalam kelas.

1. Tujuan melenceng.

2. Instruksi ribet.

3. Terlalu buang waktu.

4. Bertele-tele.

5. Tidak ada framework dan guidance yang jelas.

6. SDM guru tidak mumpuni.

7. Jenis game tidak cocok dengan kondisi siswa

8. Tidak ada rewards. 

Di kesempatan yang lain saya akan fokus menyoroti perihal beberapa kebiasaan dan tindakan guru yang salah dalam melaksanakan games sehingga bukannya having fun tetapi justru get stressed. 

KISSS Sebagai Pedoman Penggunaan Games. 


Sekarang saatnya saya berbagai mengenai konsep KISSS. Dalam menyelenggarakan games, seorang guru harus memiliki visi yang jelas. 

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya bahas juga, yakni visi guru dalam menyelenggarakan games, serta step-by-step dalam membuat games yang sesuai topik.

Namun biarlah hal tersebut kita bahas lain kali karena sekarang kita akan membahas konsep KISSS.

KISSS adalah akronim dari Keep It Simple, Short And Straight to the point. Atau kalau di-translate ke dalam bahasa Indonesia kira-kira akan menjadi seperti ini : Jaga agar tetap sederhana, pendek, dan langsung ke pokok masalah.

Prinsip KISS (keep it simple and short) atau KISSS sebenarnya sudah sangat terkenal dan familiar dalam berbagai bidang, antara lain jurnalistik, desain grafis, marketing, hingga militer. 

Di US Navy bahkan hal ini diplesetkan menjadi, Keep It Simple, Stupid!

Hahahaha.....

Jika di dalam dunia pendidikan, khususnya games, maka KISSS adalah suatu pedoman yang harus ada dan menjadi roh yang dihayati oleh guru. Jika tidak, maka games berpotensi kacau.

Untuk itu, maka sejatinya games haruslah singkat, sederhana dan langsung ke pokok bahasan, khususnya berkaitan dengan topik.

Berikut adalah beberapa point yang harus menjadi pertimbangan semua guru ketika melakukan games : 

1. Sesuai dengan topik.

Sebuah games pendidikan pasti memiliki tujuan. Ada yang sebagai pengantar menuju topik yang baru. Namun ada pula yang dilakukan setelah sebuah tema selesai diajarkan.

Inilah yang harus Anda semua sebagai guru pikirkan. 

Sebuah games pendidikan harus memiliki tujuan yang jelas. Atau dengan kata lain, games tersebut harus sesuai dengan topik, entah yang sudah diajarkan, sedang diajarkan atau yang akan diajarkan.

Games Simon Says sangat cocok untuk mengajarkan berbagai vocabulary baru seputar verb. tetapi apakah cocok jika topiknya adalah mempelajari noun, dalam tema weather and season misalnya?

Permainan menyusun lego dalam membentuk bangunan atau bentuk tertentu bagi KG sangat baik untuk melatih motorik. Namun tentu saja kurang cocok jika temanya adalah mengenal makanan sehat.

Maka dari itu, jangan sembarangan dalam memilih games. Haruslah sebuah games menjadi penunjang bagi sebuah topik, bukan sebaliknya.

Sebagai guru, Anda men-deliver pengetahuan, bukan mengajak bermain seperti para artis di tayangan-tayangan televisi.

Games adalah sarananya, bukan inti dari pembelajaran.

Jika memang suatu topik menurut Anda lebih cocok diajarkan dengan metode klasikal, maka lakukan.

Namun semakin sering Anda mengikuti pelatihan, khususnya dari mentors luar negeri, Anda maka semakin sadar ada begitu banyak games untuk setiap topik. 

Yang perlu Anda lakukan adalah menemukannya.


2. Framework yang jelas.

Yang dimaksud dengan framework disini adalah plan, concept dan rule. Bagaimana sebuah games tersebut dilaksanakan.

Tolong cermati hal ini. Jangan asal menyelenggarakan permainan yang Anda sendiri tidak tahu cara bermainnya.

Permainan seperti scrabble sangat menarik, namun tentu ada rulesnya. Tidak mungkin satu papan scrabble dimainkan 30 orang. 

Begitupula permainan digital seperti choose the words atau match the picture. Anda harus menyediakan komputer yang cukup.

Framework berarti Anda tahu :

a. Cara bermainnya. 

b. Syarat sebuah games berhasil dimainkan.

c. Do's dan Dont's

d. Cara seseorang agar memenangkan games.

e. lainnya. 

Permainan klasik dan simple seperti tebak judul lagu sangat baik untuk mengajarkan keanekaragaman lagu-lagu daerah. Namun kacau jika Anda tak tahu framework-nya. Apa yang mau disajikan : potongan lirik, nada tanpa vocal, atau gambar kekhasan suatu daerah?

3. Instruksi yang tepat. 

Ya, Anda sudah mengerti cara bermainnya. Sekarang deliver ke semua siswa! Buat mereka juga tahu cara bermainnya. Bagaimana cara yang paling mudah untuk memberi instruksi kepada siswa?

a. Gunakan bahasa yang mudah.

b. Beri contoh.

c. Ajak siswa mengulangi instruksi tersebut.

d. Beri pertanyaan untuk mengecek sejauh mana siswa paham cara bermainnya. 

Ingat, keept it simple, short and straight to the point!

4. Guru proaktif.

Di tengah permainan, Anda juga harus proaktif. Jangan hanya berdiam diri. Pantau dan dampingin siswa Anda. Catat beberapa pelanggaran atau hal menarik yang bisa dibahas nanti.

Mungkin Anda bertindak sebagai wasit, juri atau penonton. Tetapi Anda tetaplah guru. 

5. Reviewing.

Setelah games, hubungkan kegiatan Anda tadi dengan topik. Syukur-syukur jika bisa dihubungkan dalam real life. Hal ini membuat siswa paham bahwa tadi bukan hanya bersenang-senang, namun juga belajar. 

6. Evaluation 

Setelah siswa pulang, sambil menikmati kacang shanghai dan teh tarik, baca kembali ulasan Anda. Tanya diri Anda sendiri. Apakah games Anda sudah berhasil? Apa yang perlu diperbaiki?

ARTIKEL TERKAIT

Post a Comment

Artikel Terbaru

Recent Posts Widget

Tentang Penulis

Penulis adalah seorang praktisi, inovator dan pemerhati pendidikan. Memiliki pengalaman terjun di dunia pendidikan sejak 2007. Aktif menulis di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Blog yang sedang Anda baca adalah salah satu situs miliknya. Memiliki kerinduan untuk melihat generasi muda menjadi generasi pemenang yang siap menyongsong era Industri 4.0
Berlangganan Artikel Kami